Petani Kecil dalam Arus Pasar Bebas WTO

IDNews.co.id  – World Trade Organization (WTO) atau organisasi perdagangan dunia yang dibentuk pada tahun 1996 bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat di negara anggotanya. Dan Indonesia termasuk salah satu negara yang menjadi member WTO ini. Namun panggang jauh dari api, memasuki era pasar bebas ini fakta yang terjadi ialah sebaliknya.

Sekretaris Umum DPP Serikat Petani Indonesia (SPI) Agus Ruli Ardiansyah mengungkapkan, melalui AoA (Agreement on Agriculture) yang diatur dalam WTO, petani menjadi pihak yang paling dirugikan karena memiliki sumber kapital yang minim. Perannya tergantikan dan tergerus oleh korporasi-korporasi yang memiliki sumber kapital besar, yang perlahan-lahan membentuk skema monopoli.

“Sejauh ini, liberalisasi perdagangan tidak bermanfaat bagi petani kecil di Indonesia,” tegas Ruli di Jakarta, Kamis (7/12/2017).

Dia menjelaskan, petani kita semakin miskin, data terakhir menyatakan kemiskinan di desa meningkat hingga 17,10 juta jiwa per Maret 2017. Pernyataan ini juga didukung dengan data yang menyatakan bahwa daya beli petani yang tak kunjung meningkat. Nilai Tukar Petani (NTP) stagnan dalam 2 dekade terakhir-tak lebih dari 102.

“Jika dirunut, hal ini karena petani tidak dapat menentukan harga sendiri karena banyak yang tidak bisa bersaing dengan pangan impor,” tandasnya.

“Akibatnya tidak heran petani di Indonesia tidak menjadi pilihan utama pekerjaan masyarakat dan lambat laun menjadi berkurang karena tidak memiliki penghasilan yang dapat dibilang mapan ataupun menjanjikan,” kata Ruli lagi.

Dia juga menuturkan, produk pangan petani kita tidak dapat bersaing dengan produk pangan overproduksi negara maju. Produk-produk pertanian impor dari negara maju kebanyakan harganya sangat murah karena subsidi.

“Bukti nyata jomplangnya harga bisa dibuktikan dari harga kedelai, susu, jagung, gula, garam, bahkan beras,” tuntasnya. (ndi)

Posting Petani Kecil dalam Arus Pasar Bebas WTO ditampilkan lebih awal di IDNews.co.id.

Leave a Reply